Sabtu, 06 Oktober 2012

LAMBANG GUDEP MTS




Deskripsi dan Arti Lambang
Lambang GUDEP Shalahudin Al-Ayubi dan Siti Fatimah Gerakan PRAMUKA MTsN Karang sembung,  berbentuk  perisai menyerupai pola berlian (diamond) dengan warna tengah merah dan putih. Dibagian atas lambang terdapat kalimat “ABYHASA WIRA SATYA” (bahasa sangsekerta) yang artinya  “disiplin berani dan setia” kalimat ini merupakan Dasadharma ke-8 yang dijadikan semboyan dan motto Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung. Diatas warna merah putih itu terdapat bintang bersegi lima, Pena dari bulu yang bersilang dengan sangkur, dua buah tunas kelapa dan pita berwarna kuning dengan tulisan ”MTsN KARANGSEMBUNG”, sedangkan dibagian bawahnya ada pita berwarna hijau dengan tulisan nama GUDEP yaitu “SHALAHUDIN dan SITI FATIMAH”.

1.      Perisai berbentuk berlian :
Perisai adalah pelindung diri. Artinya anggota Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung, senantiasa melindungi diri dari hal-hal yang tidak baik dan merusak, agar bisa bersinar seperti berlian yang memancarkan sinar keindahan.
2.      Warna tengah Merah Putih :
Persatuan Indonesia. Artinya anggota Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung, siap membela dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan berani (merah)  dan setia (putih)
3.      Dua buah siluet tunas kelapa:
Lambang Gerakan Pramuka Indonesia. Artinya anggota Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung, adalah Putra-Putri ibu pertiwi yang siap untuk tumbuh berkembang dan berkarya.
4.      Bintang segi lima :
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila. Artinya anggota Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung, senantiasa menaati dan menjunjung tinggi norma-norma agama dalam kehidupanya berdasarkan Pancasila.
5.      Pena dari bulu:
Alat tulis jaman dahulu. Artinya anggota Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung, senantiasa menuntut ilmu dan belajar sebagai bekal masa depan, agar hidup lebih baik.
6.      Sangkur atau pisau belati:
Alat untuk bertahan hidup (survival) dan membela diri. Artinya anggota Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung, senantiasa  menyiapkan diri menghadapi kehidupan dengan mandiri.
7.      Warna hijau :
Kesejahteraan.  Artinya anggota Gerakan Pramuka MTsN Karangsembung, senantiasa berusaha menciptakan kesejahteran, melestarikan alam dan lingkunganya.
8.      Warna Kuning  Emas:
Mulia atau jaya.  Artinya anggota Gerakan pramuka MTsN Karangsembung, terus berjuang demi kemulian dan kejayaan agama, bangsa dan negara, layaknya Shalahudin Al –Ayubi  dan Siti Fatimah yang berjuang demi kemulian dan kejayaan agama Islam.

BIOGRAFI HUSEN MUTAHAR DAN IDIK SULAIMAN


HUSEIN MUTAHAR

 Husein Mutahar (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916 – meninggal di Jakarta, 9 Juni 2004 pada umur 87 tahun), atau lebih dikenal dengan nama H. Mutahar, adalah seorang komposer musik Indonesia, terutama untuk kategori lagu kebangsaan dan anak-anak. Lagu ciptaannya yang populer adalah himne Syukur (diperkenalkan Januari 1945) dan mars Hari Merdeka (1946). Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.
Ia mengenyam pendidikan setahun di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada periode 1946-1947, setelah tamat dari MULO B (1934) dan AMS A-I (1938). Pada tahun 1945, Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Jogjakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Jogjakarta (1947). Selanjutnya, ia mendapat jabatan-jabatan yang meloncat-loncat antardepartemen. Puncak kariernya barangkali adalah sebagai Duta Besar RI di Tahta Suci (Vatikan) (1969-1973). Ia diketahui menguasai paling tidak enam bahasa secara aktif. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974).
Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya. Namanya juga terkait dalam mendirikan dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tim yang beranggotakan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia yang bertugas mengibarkan Bendera Pusaka dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Mutahar meninggal dunia di Jakarta pada usia hampir 88 tahun akibat sakit tua. Selama hidupnya ia tidak pernah menikah.
Diantara riwayat pekerjaan beliau adalah sebagai berikut:
1)      Guru Bahasa Belanda di SD Islam swasta di Pekalongan
2)      Wartawan berita kota dari Surat Kabar berbahasa Belanda “Het Noorden” di Semarang tahun 1938,
3)      Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor Noord Midden Java, Departement Ekonomische Zaken, 1939-1942
4)      Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) Kantor Gubernur Jawa Tengah, 1943.

5)      Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara) di Semarang, 1943-1948.
6)      Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia, 1945-1946
7)       Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik Indonesia 1946-1948.
8)       Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, 1969 – 1979.
9)      Diperbantukan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K, 1966-1968.
10)  Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973.
11)  Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara, 1973-1974
12.
12)  InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan selama 16 bulan, merangkap Direktur Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, merangkap Kepala Protokol Negara, 1974.
13)  Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IVe.

Sementara pengalaman berorganisasi beliau adalah sebagai berikut:
1)      Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-196.
2)      Anggota Partai Politik, 1938 – 1942
3)      Kepala Sekolah Musik di Semarang, sebagai tempat penanaman, penyebaran, dan pengobaran semangat kebangsaan Indonesia, dan sebagai gerakan penyebaran semangat melawan Jepang dan kamuflase gerakan subversi melawan Jepang, 1942-1945
4)      Anggota AMKRI (Angkatan Muda Kereta Api Indonesia) di Semarang, 1945.
5)      Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945.
6)      Anggota redaksi majalah ‘Revolusi Pemuda’ 1945-1946.
7)      Gerilya, 1948-1949
8)      Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia "Pandu Rakyat Indonesia", 28-12-1945 s.d. 20-5-1961
9)      Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan, 1961-1969
10)  Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, 1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004.



IDIK SULAIMAN

Pria dengan penampilan yang tenang ini dilahirkan di Kuningan pada hari Kamis, 20 Juli 1933, dengan nama lengkap Idik Sulaeman Nataatmadja. Menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa senisudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA ia memilih senirupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 9April 1960. Menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idikdikaruniai tiga anak, yakni Ir. ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikanIr.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah (yang bersuamikan Ari RezaIskandar). Dari ketiganya, ia kini memiliki enam orang cucu, masing-masing 3cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.

Idik Sulaeman memulai karirnya di Balai Penelitian Tekstil dan bekerja disana pada 1960-1964. Pada 1 Februari 1965 ia diangat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr.Azis Saleh. Ternyata dunia seni dan tekstil harus mulai ditinggalkan nyaketika 1 Desember 1967 Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), mula-mula sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan.Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka. Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Dan pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi "komandan" dalamlatihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979. Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) danmenjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerjadi bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolahyang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah. Ia juga membantu Mutahar dalam membentuk dan melatih kelompok pengibar bendera di sekolah-sekolah, serta mengatur dan menggerakkan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan Ikatan Keluarga OSIS (IKOSIS).
Bakat seni rupa dan pengetahuan tentang tekstil itu jugalah yang membuat Idik menciptakan sendiri seluruh atribut yang ada di Paskibraka, termasukrancangan seragamnya sendiri dan lambang-lambangnya pada tahun 1973. Atribut itu antara lain lambang korps Paskibraka, lambang anggota dan kendit serta lencana Merah-Putih- Garuda (MPG) sebagai tanda telah mengikuti latihan "Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila" . Dunia pendidikan terus menjadi bidang karir Idik setelah tidak lagi menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan. Tahun 1985, ia menjadi tenaga pengajar pada Jurusan Seni Rupa di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti Jakarta. Di sana, ia juga ikut aktif membina Pramuka dan mahasiswa sampai akhirnya diangkat menjadipembantu Rektor III Urusan Kemahasiswaan mulai 10 Oktober 1989 sampai 2 Januari 1995. Di perguruan tinggi terkemuka di Jakarta itu, Idik masih mengajar sampai usianya 70 tahun (Juli 2003). Kiprah Idik dalam dunia pendidikan selaku pegawai negeri sipil baru berakhir pada tahun 1998 setelahia memasuki masa pensiun dengan pangkat terakhir Pembina Utama Madya, golongan IV/d. Selama karirnya itu, ia sempat menyelesaikan Kursus Reguler Angkatan XII (KRA-XII) Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) di DepartemenHankam pada 3 Desember 1979.
 


PENGGAGAS PASKIBRAKA ITU PRAMUKA LOH...



PASKIBRAKA
hasil karya besar dan warisan Gerakan Kepanduan
(PRAMUKA)


Sebuah Gagasan Menjadi Sebuah Karya

PASKIBRAKA, siapa sih yang  tidak kenal pasukan ini? Mereka memiliki tugas utama mengibarkan bendera duplikat pusaka kebanggaan bangsa kita yaitu Sang Saka Merahputih pada upacara peringatan proklamasi kemerdekaan indonesia tepatnya 17 agustus di istana Negara atau pada  hari-hari besar nasional lainya.PASKIBRAKA merupakan akronim dari Pasukan Pengibar Bendera, sejarah berdirinya sangatlah panjang dan harus di berikan apresiasi lebih oleh kita.
Dimulai dari awal kemerdekaan tepatnya pada tahun 1946 dengan gagasan yang dimiliki oleh Husein Mutahar, pada waktu itu beliau menjabat sebagai Mayor Ajudan Presiden Soekarno, beliau mendapat perintah untuk mempersiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman istana gedung Agung Yogyakarta, pada saat itulah Husein Mutahar memiliki gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru tanah air, kerena mereka adalah generasi penerus bangsa,  gagasan tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa indonesia. Pengibaran bendera bisa menjadi simbol perjuangan dan nilai-nilai bangsa.
Husein Mutahar adalah orang yang sangat berjasa dalam perintisan dan pendirian PASKIBRAKA, dapat dikatakan Husein Muthar adalah bapak PASKIBRA Indonesia, bukan hanya Husein Mutahar saja yang mengambil andil dalam penataan PASKBIRKA, masih banyak tokoh-tokoh lainya, seperti Idik Sulaiman yang telah mencetuskan akronim PASKIBRAKA sebagai pengganti pasukan pengerek bendera(dari tahun 1967-62), dan beliau juga yang merancang baju untuk upacara PASKIBRAKA serta atribut dan lambang paskibra (bunga teratai) bukan hanya itu saja Idik Sulaiman merancang konsep silabus pelatihan dan pendidikan yang dilaksanakan PASKIBRAKA, Darminto Surapati merupakan pakar PBB dan ahli dalam pelatihan dan pendidikan tatacara upacar dan tapak-tapak pengibaran, dalam hal pembinaan mental di dalam kehidupan sehari-hari selama anggota Paskibraka berada di asrama ada Soebedjo  dan  Bunda  Bunakim.Mereka semua senantiasa bekerja dan berjalan bersama membangun suatu bangunan yang sangatlah utuh, merekalah adalah pandu-pandu terbaik bangsa yang berhasil menciptakan karya luar biasa, dengan hati-hati berhasil menyusun dan membuat konsep secara detail tentang PASKIBRAKA.

Mata Rantai Yang Sengaja Diputus

SALAAM..... PRAMUKA......!!!!! mungkin pembaca akan tercengang, kenapa awal paragrafnya mengunakan kata itu, bukankah pada pembahasan awal sudahlah jelas kita sedang membahas PASKIBRAKA, lantas kenapa yang digunakan adalah “Salam PRAMUKA” bukan “Salam paskibra”..?? (bukankan itu pertanyaan yang ada di benak pembaca). Pertanyaan pembaca akan terjawab jika telah selesai membaca tulisan ini.
PASKIBRA dan PRAMUKA adalah sebuah hal yang nampak berbeda dan jauh dewasa ini, bahkan terkadang kita temukan ada ketidakharmonisan diantara keduanya, apakah ada yang salah, yang terkadang membuat ketidakharmonisan ini..?? tidak jarang, bahkan sering kita jumpai perselisihan diantara keduanya baik ditingkat pendidikan (sekolah) dan daerah (kecamatan,kabupaten,dll) dua hal inilah yang membuat penulis membuat artikel ini.
Seperti telah di jelaskan diatas bagaimana sejarah PASKIBRA berdiri, dan siap saja yang mengambil andil dalam pendirian dan perintisan PASKIBRA, setiap kali kita mencari tau sejarah dan latar belakang tentang PASKIBRA baik melalui media cetak atau situs-situs internet, maka yang akan kita temukan dan dapatkan tidaklah jauh berbeda dengan tulisan penulis diatas. Rasanya ada hal yang sempat luput atau bahkan sengaja tidak diinformasikan selama ini, yang berkaitan tentang paskibra dan para tokoh legendarisnya, tidak jarang jika anggota paskibra di sekolah atau di setiap daerah tidak mengetahui secara detail konsep paskibraka yang sebenarnya, bagaimana ia lahir, atau barangkali siapa yang melahirkanya.
 Gagasan PASKIBRA berawal pada tahun 1946, pada saat itu Husein Mutahar menjabat sebagai ajudan prisiden soekarno, disamping itu juga beliau sangatlah aktif dalam kegiatan Gerakan Kepanduan Indonesia beliau beberapa kali mendapatkan bintang kehormatan dari negara republik Indonesia, atas jasa-jasanya dalam membina dan mendidik generasi muda.
 Pada tahun 1967 Husein Mutahar menjabat Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan PRAMUKA, pada tahun itu pula beliau menyempurnakan gagasanya yaitu membentuk formasi PASKIBRA menjadi tiga pasukan. Didalam dunia Gerakan Kepanduan Husein Mutahar termasuk kedalam tokoh yang sangat berjasa, beliau adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Husein Mutahar adalah seorang komposer, tidak sedikit lagu-lagu yang telah  beliau ciptakan, beberapa lagu yang sangat terkenal adalah, Syukur, Hari Merdeka, Dirgahayu Indonesiaku, lagu-lagu mars dan pramuka yang berhasil beliau ciptakan, sebelum beliau wafat  KWARNAS pernah merencanakan mengadakan konser untuk memperdengarkan lagu-lagu beliau.
Husein Mutahar aktif dan terlibat di lembaga Gerakan Kepanduan sejak awal lembaga tersebut berdiri.mari kita tengok perjalalan beliau di dunia kepanduan indonesia. Berawal dari tahun 1934-1969 beliau menjadi Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, kemudian pada tahun 1945-1961 belaiau Ikut serta  mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia “Pandu   Rakyat Indo-nesia. Disusul pada tahun berikutnya tepatnya pada tahun 1961-1969 beliau ikut serta pula mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan.Pada tahun  1966-1968, beliau menjabat sebagai Direktur jendral Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K. Jabatan tertinggi dalam dunia Kepanduan beliau duduki pada tahun 1973 -1978 sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuk, dan menjadi anggota biasa terhitung 1978 hingga akhir hayatnya yaitu tahun 2004.
Sungguh luar biasa, dari rentetan perjalanan beliau didunia kepanduan bahkan hampir seluruh hidupnya beliau didikasikan untuk, gerakan kepanduan dalam upaya pembinaan generasi muda, bahkan beliau dalam rangka mempermudah salah satu tujuan gerakan kepanduan indonesia yaitu mencetak  “pandu muda berpancasila” beliau menggagas PASKIBRA yang diharapkan akan menumbuhkan  jiwa kosra dihati para pemuda penerus bangsa.
Husein Mutahar adalah orang pertama yang mengusulkan gagasan tentang  PASKIBRA, selanjutnya siapa lagi orang berikutnya ke-2, ke-3 dan seterusnya. ururutan kedua sangatlah tepat jika dijatuhkan kepada Idik Sulaiman mengapa demikian..? Idik Sulaiman adalah yang  melontarkan nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA, beliau pun yang mencetuskan lambang  PASKIBRAKA yaitu bunga teratai dan juga baju serta atribut yang digunakan, lencana yang digunakan paskibra adalah lencana merah putih dan garuda, merupakan tanda bukti telah mengikuti pelatihan “pandu muda ber-pancasila”. idik sulaiman ternyata masih mengaitkan makna simbolis lencana paskibra dengan Gerakan Kepanduan indonesia, lantas siapakah sebenarnya Idik Sulaiman..?
Dia adalah PRAMUKA sejati, Dunia kepanduan dan Pramuka adalah bagian lain dari hidup Idik Sulaeman, ini adalah catatan singkat perjalanan beliau dalam dunia Gerakan Kepanduan. Sejak berusia enam tahun (1939), ia sudah mengenal kepanduan sebagai pandu muda di Kepanduan Natipy ,Sesudah Pandu Rakyat berdiri di Kuningan, ia menjadi Pandu Perintis dan dilantik di daerah Manonjaya.
Tahun 1950 beliau pindah ke Purwakarta dan masuk kepanduan lagi sebagai Pandu Pawang. Baru kemudian jadi Pandu Penuntun dan masuk Kelompok Jakarta-17 saat SMA di Jakarta.Ketika kuliah di ITB, Idik mendirikan Perindukan Pemula. Itulah sebabnya ketika Gerakan Pramuka didirikan, ia masuk dalam susunan Kwartir Daerah Jawa Barat sebagai Andalan Daerah Urusan Perlengkapan. Ia juga sempat menjadi Ketua Kwartir Cabang Kodya Bandung menggantikan A. Djamil yang pindah ke Jakarta. Dengan pengalaman di Jawa Barat itulah, ketika pindah ke Jakarta Idik ditunjuk menjadi Asisten Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kwartir Nasioal Gerakan Pramuka.
Ketika mengajar di Universitas Trisakti, Idik mendirikan dan mengaktifkan Pramuka di sana bersama beberapa dosen dan pimpinan universitas. Sejumlah kursus orientasi yang terorganisir dan berkesinambungan diadakan dengan tokoh-tokoh mahasiswa, sehingga Pramuka Trisakti tetap eksis sampai sekarang di Kampus A, B dan C. Selama sebelas tahun menjadi Andalan Nasional (1988-1998), Idik tercatat pernah mendapat penghargaan Lencana Darma Bakti, Lencana Panca Warsa IV dan Lencana Melati.
Lantas siapa lagi yang memberikan peranaan penting dalam penataan dan pendidikan PASKIBRAKA.? Jika Husein Mutahar adalah yang memberikan gagasan utama, sedangkan Idik Sulaiman adalah yang menciptakan teori, konsep pendidikan, lantas siapa yang secara utuh menjadi pelaksana kegiatan dilapangan.? Dalam paragraf diatas dijelaskan “Darminto Surapati merupakan pakar PBB dan ahli dalam pelatihan dan pendidikan  tatacara upacar dan tapak-tapak pengibaran” kemudian apakah kita masih bertanya siapakah beliau.? Jawabanya adalah Darminto surapati, tidak jauh berbeda dari seorang Husein Mutahar dan idik sualaiman, Beliau merupakan aktifis Gerakan Kepanduan Indonesia, ide-ide dan konsep yang beliau susun, merupakan adaptasi dan terinspirasi dari berbagai pengalamanya didalam Gerakan Kepanduan Indonesia. bagaimana dengan Bunda Bunakim dan Soebedjo.? Jika pembaca adalah  simpatisan dan fanatik terhadap PASKIBRA, silahkan pembaca cari tau siapa juga mereka, Bunda Bunakim dan juga Soebedjo tidaklah lain adalah orang tua kita, pantaskah kita jika tidak mengeanal dan mengetahuinya...??
Perlu kita ketahui bersama salah satu gerakan yang bertujuan membangun dan mendidik para pemuda sebagai pewaris dan penerus bangsa adalah Gerakan Kepanduan atau yang lebih kita kenal dengan PRAMUKA, gerakan ini memiliki sejarah yang sangat panjang di mulai dari zaman penjajahan hindia belanda dan memiliki lika-liku unik  jika kita kaji.Gerakan Kepanduan Indonesia (PRAMUKA) sudah sangatlah jelas mampu dan terbukti berhasil mencetak dan membina generasi muda penerus bangsa yang senantiasa mengamalkan pancasila dan terus memberikan karya luar biasa, tidak sedikit Putra-putri terbaik bangsa lahir dan besar dari Gerakan Kepanduan Indonesia, tidaklah mungkin seorang Husein Mutahar meiliki gagasan yang cemerlang tentang pengibaran, Idik Sulaiman yang memiliki konsep pendidikan dan pelatihan, serta dengan detail merancang lambang, baju dan atribut yang di gunakan oleh pasukan pengibaran, atau Darminto Surapati yang ahli dalam bidang PBB dan tata cara pengibaran, mampu meberikan sumbangsih yang sangat luar biasa terhadap PASKIBRAKA, jika mereka tidak memiliki segudang ilmu, dan sejuta pengalaman dalam bidang Gerakan Kepanduan (PRAMUKA), hampir seluruh hidup mereka tidak terlepas dari dunia kepanduan, bahkan sampai akhir hayatpun mereka masih tercatat dan aktif dalam kegiatan-kegiatan ke-PRAMUKA’an
Sungguh masih banyak ihwal dan mata rantai yang terputus yang dapat mengaitkan Gerakan Kepanduan (PRAMUKA) dan PASKIBRA selain beberapa penjelasan yang telah dituliskan diatas.Tapi kiranya sekarang  kita mengetahui, dan mampu sedikit memahami konsep dasar dan esensi apa yang ingin disampaikan dari PASKIBRA dan Gerakan Kepanduan (PRAMUKA). Malu lah kita selama ini jika diantara PASKIBRA dan Gerakan Kepanduan (PRAMUKA) tidak hidup harmonis, arogan, bahkan berselisih dan menjatuhkan satu sama lain, apa yang akan dikatakan oleh Husein Mutahar selaku penggagas PASKIBRA sekaligus Seorang Eyang PRAMUKA, apa yang akan di cetuskan Idik sulaiman sebagai Penyusun konsep PASKIBRAKA dan juga PRAMUKA sejati. Mereka adalah  pandu-pandu terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa, yang mampu mendidik dan membina generasi penerus bangsa, agar memiliki jiwa-jiwa korsa, yang terus berjuang tanpa mengenal lelah dan pamrih.Mereka lahir, dan melahirkan sebuah karya besar, karya itu adalah PASKIBRA.